News Update :

Translator

Moto GP News

Basketball News

Formula 1 News

Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan

AYESHA, TERTARIK ISLAM KARENA JILBAB

Minggu, 24 Oktober 2010

Semenjak mengenal Islam, wanita kelahiran Polandia, tapi besar di Denmark dan Swedia ini makin hari makin berubah. Sangat realistis dengan hidup, makin peduli dan respek terhadap sesame. Dan masih banyak perubahan positif lainnya.
Hidayatullah.com-- Namanya Ayesha Islam. Dia dilahirkan di Polandia, tapi besar di Denmark dan Swedia. Jadi, bisa dikatakan telah mengenal dunia internasional sejak kecil. Perjalanannya menuju Islam dimulai tahun 1995 saat masih di Swedia. Di sanalah Ayesha berjumpa dengan muslim asal Lebanon . Meskipun mereka itu tidak begitu agamis, bahkan mereka tak pernah menceritakan pada Ayesha apa itu Islam, namun mereka cukup punya kesan mendalam dalam perjalanannya menuju Islam.

“Karena dengan merekalah saya pertamakali berada dalam lingkungan muslim,” katanya. Dalam sebuah parade di AS dia berpapasan dengan beberapa wanita berjilbab yang juga ikut menonton pawai tersebut. Itulah awal dari semuanya. Selepas pertemuan itu Ayesha rajin mengikuti pengajian dan akhirnya bersyahadah. Berikut kisah lengkapnya. []

“Hidup ini merupakan perjalanan dan kematian bagian dari perjalanan itu sendiri."

Ayesha Islam, 2005

“Untuk beberapa alasan saya selalu merasa bisa menjadi diri sendiri kala berkumpul dengan orang-orang Islam kendati pada saat yang sama saya dianggap asing oleh warga di sekitar tempat tinggal. Begitupun saya berupaya untuk tetap mengikuti gaya hidup mereka, meskipun sebenarnya saya sendiri tidak suka. Misalnya, saya tidak pernah mengenakan pakaian ketat, tidak suka pakai make up, atau ikut-ikutan ke bar, minum-minuman keras. Sejak kecil saya hanya punya keinginan jika sudah besar ingin berkeluarga, lalu memiliki anak dan hidup tentram bahagia dalam kesederhanaan. Hanya itu. Simpel saja,” tutur Ayesha tentang gaya hidupnya.

Namun ketika memasuki usia 18 tahun, tiba-tiba dia punya keinginan jadi psikolog. Karena cita-cita itu pula Ayesha terbang ke AS, untuk ketigakalinya, di tahun 2001. Disana dia belajar ilmu kesehatan mental dan psikologi kriminal. Satu hari dia berada di tengah-tengah kota Manhattan, tepatnya di sekitar America Avenue .

“Saat itu saya sedang dalam perjalanan ke gereja Swedia untuk mengikuti satu pelajaran. Untuk mencapai gereja itu biasanya saya jalan kaki dari 5th Avenue ke 48th Street. Tapi hari itu, tepatnya 19 Juni 2005, saya putuskan untuk melintasi kawasan America Avenue untuk menikmati suasana keramaian yang sedang digelar disitu,” kenangnya.

“Ternyata sedang ada parade atau pawai internasional disana. Saya berpapasan dengan beberapa wanita berjilbab yang juga ikut nonton. Serta merta saya dekati mereka seraya mengatakan saya tertarik belaar Islam. Itulah awal dari semuanya. Selepas pertemuan itu Ayesha rajin mengikuti pengajian dengan beberapa muslim Yaman,” kata Ayesha lagi.

Ayesha mulai mengumpulkan buku-buku Islam dan juga mengenakan jilbab. Jilbab, ketika itu hanya dia pakai ketika berada di kereta bawah tanah. “Seorang muslim asal Maroko menghadiahi saya film “The Message” yang berkisah tentang perjuangan Rasulullah SAW. Film ini sangat mempengaruhi kehidupan saya,” sebut Ayesha. Dia bahkan mulai mencoba ikut puasa selama Ramadhan.

Muslimah Maroko itu juga menerangkan tentang ucapan khusus kala seseorang mau masuk Islam. Ayesha bahkan mulai “mendakwahi” orang-orang terdekat kendati belum bersyahadah. “Saya bilang pada orang-orang, sekali Anda mengetuk pintu Islam, maka Anda pasti tak ingin keluar lagi karena agama ini punya ideologi dan cara hidup yang begitu indah,” tukasnya.

“Saya benar-benar butuh perubahan identitas yang drastis. Saya bahkan mengubah sendiri nama menjadi Laila di saat merayakan ultah ke-30. Di usia itu pula saya menerima Islam dan menjadi seorang muslim,” kenang Ayesha lagi yang bersyahadah pertengahan 2005 silam.

Teman-teman dan anggota keluarganya sangat ingin mendengar tentang perubahan yang muncul dari dirinya. Tapi di saat Ayesha mulai bercerita tentang Islam, mereka pada menyingkir pergi dan tak mau lagi mendengarkan apa itu Islam. “Tak apa-apa, mereka tak mau dengar. Justru saya jadi ingin tahu hingga mencari-cari kira-kira cerita apa yang mereka suka dari Islam,” kenang Ayesha.

“Lucu sebenarnya, padahal tak ada yang berubah dari saya. Saya masih orang yang sama dan pribadi juga tak berubah. Saya masih menyintai siapa saja. Saya masih suka berbagi pengalaman dengan kalangan mana saja tanpa membeda-bedakan status. Begitu juga sekarang, saya merasakan nikmatnya Islam. Karena itu saya musti ceritakan juga kepada orang lain. Berbagi makanan yang nikmat bagi jiwa. Persis seperti kita sharing info tentang makanan enak di suatu restoran ataupun buku bagus bagi rekan sejawat dan keluarga kita. Simpel kan ,” terang Ayesha lagi.

Ayesha sejak lama suka berkirim email dengan teman-temannya. Hingga mereka itu persis seperti saudara sendiri. Tapi kemudian mereka seperti menjaga jarak.

“Mereka menjauhi saya karena takut tersentuh “makanan” yang nikmat ini. Dengan kata lain, mereka tak percaya dengan pilihan hidup saya yang baru itu,” kisah dia.

Adapun anggota keluarganya juga mulai jengah dengan keislamannya itu. “Ibu pun sangat peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Saya dikatakan jelek dan berjalan terlalu jauh. Tapi jika saya ngambek dan menyembunyikan diri di kamar, dia masih masih mau mendengar tentang Islam. Namun anggota keluarga yang lain merasa malu karena keislaman saya,” kata Ayesha.

Pola pikir Ayesha makin hari makin berubah. Dia mulai realistis dengan hidup, makin peduli dan respek terhadap sesama, menerima dirinya sendiri sebagai bagian dari masyarakat banyak, tidak egois dan perubahan-perubahan positif lainnya.

Dia berupaya dekat dengan Allah dan mengkondisikan dirinya seolah-olah senantiasa diawasi oleh-Nya. “Ini sangat membantu saya untuk selalu berperilaku baik dan ingat dengan tujuan hidup sebenarnya,” aku dia.

“Dulu saya paling sulit dan gengsi mengatakan "tidak", tapi sekarang saya berani bilang "tidak" jika saya tidak bisa mengerjakan sesuatu hal. Jujur pada diri sendiri, itulah yang saya peroleh dalam Islam. Dengan begitu kita akan makin kenal dengan diri kita sendiri. Kita akan makin respek, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Lebih dari itu, Islam membuat saya kembali “hidup” di dunia ini, persis baru pertama dilahirkan,” terangnya lagi.

“Sejujurnya, saya dulu tak merasakan kenikmatan dalam hidup. Saya, semasih kecil, merasa asing di dunia ini. Sebabnya, saya lahir di luar nikah. Orang tua saya menyebut, kehadiran saya di luar perencanaan. Hingga saat ini saya tak punya seseorang yang bisa dipanggil sebagai ayah,” tandasnya.

“Tapi kini saya tahu itu bukan sebuah hal yang patut disesali. Allah adalah Maha Pencipta. Allah Maha tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bukanlah kesalahan Allah hingga melahirkan saya dengan cara seperti itu. Hingga saya tak punya ayah biologi. Hingga saya terlahir dari orantua non-muslim. Allah maha bijaksana,” katanya penuh keikhlasan.

Kini Ayesha merasa enjoy dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Kemanapun dia pergi, tak ada rasa takut dan malu. “Saya kini merasa bebas seperti burung yang bebas terbang tanpa ada rasa takut jatuh. Begitu pula saya dengan pakaian ini. Saya juga rasakan kenikmatan ketika shalat,” ungkap Ayesha yang kembali menekuni studinya di bidang psikologi dengan tetap berjilbab.

Dia bahkan mengaku tak ragu jika satu ketika musti kehilangan rumah tempat tinggalnya alias diusir dari rumahnya sendiri. “Islam membuat saya makin kuat,” kata Ayesha yang mulai fokus dengan studi dan berharap bisa menikah segera serta memilih bekerja sebagai seorang ibu rumah tangga. Wallahu alam bisshawab. [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]



TIGA RATUS KILOGRAM BERAS

"Pak.....Pak. ....napas Ibu sesak sekali....Ibu tidak bisa ke kantor hari ini..." lirih Ibu Nanda pada suatu pagi....

Kala itu, di bulan Desember 2001...tujuh tahun yang lalu....aku tinggal bersama keluarga Bapak Nanda....
Keluarga yang sangat bahagia...Bapak dan Ibu Nanda memiliki 2 orang anak...anak yang pertama laki-laki dan anak yang kedua perempuan... Aku melihat bahwa kehidupan keluarga mereka sangat rukun dan saling mengisi satu sama lainnya...antara Bapak dan anak-anaknya selalu ada komunikasi demikian dengan Ibunya...seakan- akan tiada tanpa komunikasi dalam satu hari.... Sepintas ada rasa iri aku terhadap keluarga Bapak Nanda... Aku iri dengan kebahagiaan mereka...orang kaya...memiliki rumah yang besar....punya banyak mobil...tapi tidak sombong dan ringan tangan dalam membantu sesama.... membantu tetangga yang kesulitan maupun membantu orang-orang kampung ditempat tinggalku...

Aku ikut keluarga Bapak Nanda sudah cukup lama...Bapakku merupakan karyawan yang bekerja di keluarga Bapak Nanda....beberapa puluh tahun yang lalu...dan sampai sekarang masih berhubungan baik dengan keluarga besar Bapak Nanda...

Ibu Nanda sedang mengandung anak yang keempat....beliau pernah mengalami keguguran pada kandungan ketiga...oleh karena itu Ibu Nanda sangat hati-hati sekali dalam menjaga kandungannya. ...
Kandungan Ibu Nanda memasuki usia kandungan 5 bulan...untuk kali ini kondisi Ibu Nanda sangat memprihatinkan. ..karena Ibu Nanda mempunyai riwayat ashma yang cukup parah...Aku sangat prihatin dengan kondisi Ibu Nanda....

"Pak...pak.. .. Ibu sudah tidak kuat lagi...."lirihan Ibu Nanda terdengar kembali..."Ibu sesak napas...Pak. ."lanjutnya. ...

Pagi itu aku sedang membantu putra putri Ibu Nanda memakai pakaian seragam sekolah...ku lihat wajah ibu Nanda pucat...dengan napas yang tersengal-sengal. ...sesekali ku dengan suara...ngiiik. ..ngiiik. ..ngiiiik. ..

"Paaaakkk... ..Ibu sakit" jerit Ananda putri kedua keluarga tersebut...

"Bu...tahan bu..."aku berusaha menenangkan Ibu Nanda.... Bapak sedang beli roti buat sarapan..... .lanjutku sambil duduk bersimbuh di dekat kaki Ibu Nanda....

Tak lama kemudian Pak Nanda datang...beliau lari tergopoh-gopoh dan segera menghampiri istrinya yang sedang menahan sakit...
Pak Nanda berusaha menenangkan istrinya ..."Bu....ibu. ...ini Bapak....kita ke dokter yha....sabar yha..Bu..."

Waktu terus berlalu...aku mengurus anak-anaknya. .... mereka diantar kesekolah oleh supir...sedangkan aku kembali sibuk dengan urusanku....

Hujan turun tak henti-hentinya. ....sejak malam hingga siang hari.... setelah selesai pekerjaanku. ..aku menyalakan televisi..." aku ingin dengar berita hari ini"ujarku dalam hati....
Ya ampun...banjir. ..banjir dimana-mana. ...begitu terkejutnya aku setelah aku mendengar berita mengenai banjir akibat hujan terus menerus....

"Astagfirullah. ..."aku dikagetkan oleh dering telepon...." Assalamualaikum. .."jawabku. ...
"Asih...asih. ...ini Bapak..."terdengar diujung telpon.....Ibu dirawat Sih....tolong siapkan bajunya yha..dan titip anak-anak... mungkin Bapak menginap karena ashma Ibu kambuh lagi...kali ini bayinya kekurangan oksigen..."lanjut Pak Nanda tanpa henti.... terdengar kalau Pak Nanda sangat panik...
"I...iiiya.. .Pak....nanti Asih siapkan Baju Ibu...tapi Ibu dan adik bayinya tidak apa-apakan?" jawabku dengan sedikit agak gemetar....
"Doain aja ya...Sih...semoga Allah berkenan memberikan yang berbaik....udah dulu ya....Sih... titip anak-anak.." akhir dari suara Bapak Nanda diujung telpon...

Aku segera menyiapkan keperluan Ibu Nanda.... aku minta tolong agar supir mengantarkan pakaian Ibu ke rumah sakit yang berjarak agak jauh dari rumah...
Sementara aku menjemput anak-anak di sekolah....dan tak lupa aku membawakan jas hujan, payung dan minuman hangat untuk mereka.....

Alhamdulilah. ..akhirnya sampai juga kami bertiga di rumah.... aku bereskan baju-baju basah mereka...dan aku urus semua kebutuhannya. ...
Sempat kulihat jam dinding...menunjukk an pukul tiga..."ah.. .sudah sore...tapi kenapa supir belum juga datang...."ujarku dalam hati....

kringggg.... .kringgggg. ..kringggg. ..dering telepon kembali berbunyi..." Sih....Paijo dah disuruh kirim baju belum?tanya suara diujung telepon..yang ternyata adalah suara Pak Nanda...
"Sudah Pak...sejak jam 10 tadi...."jawabku dengan gelisah... "apa kena macet dan banjir yha..Pak.... "lanjutku. ..
"Bisa jadi...ya sudah...anak- anak sudah dijemput..tolong titip anak-anak ya..."lanjut Pak Nanda dan menutup teleponnya.. ..

Aku memberi tahu kepada anak-anak... kalau Bapak sedang menunggu Ibu dan adik bayi di rumah sakit...jadi jangan rewel dan kita sama-sama berdoa untuk kesehatan Ibu dan adik bayi...
Aku terharu melihat sikap anak-anak yang baik dan penurut itu...

Sudah empat hari Ibu tidak pulang...sedangkan Bapak pulang pagi..dan malam menginap di rumah sakit.....
Hujan masih turun...kadang deras kadang rintik-rintik. .. Ibu Nanda dirawat kembali di rumah sakit.... sejak kehamilan bulan pertama..Ibu Nanda sering sekali bolak balik ke rumah sakit...bila aku hitung-hitung. ..1 minggu sehat dan bisa ke kantor...3 minggu istirahat di rumah sakit karena kondisi penyakit ashmanya yang sering menyerang pernapasan beliau....selain itu kondisi cuaca tidak bersahabat.. ..

Suatu ketika....saat aku ingin masak nasi...kulihat tempat simpan beras sudah kosong.... Aku lupa untuk minta uang...kucoba untuk menelpon Bapak dan menyampaikan kalau beras habis....
"Assalamualaikum. .Pak...Pak, maaf Asih hanya mau menyampaikan kalau beras habis...."suaraku agak tertahan...karena keprihatinan terhadap kondisi keluarga ini....
"Iya Sih..nanti Bapak beli....titip anak-anak yha...Sih... "kembali lagi Bapak mengingatkanku untuk selalu menjaga anak-anaknya. ...

Tak lama anak-anak pulang....Mbak Asih...Mbak Asih...banjir Mbak...banjir dimana-mana. ...tadi mobil kita mogok terus bisa jalan lagi karena didorong banyak orang...."teriak anak-anak saat turun dari mobil...
"Pak Paijo...banjir Pak...?" tanyaku...
"Iya Mbak...banjir. .dimana-mana. ..."jawab Pak Paijo....

Setelah anak-anak ganti baju..."Mbak Ananda lapar...."rengek Ananda.... Rangga juga lapar.."suara kakaknya terdengar...

"Sabar yha....tadi Mbak sudah telepon Bapak..Nanti Bapak pulang bawa beras..."aku berusaha menghibur mereka....

Kring...kring. ..telpon berdering kembali..."Sih. ..Asih... Bapak gak bisa pulang...karena banjir....kamu minta tolong tetangga gih....tolong yha Sih..."terdengar suara Bapak dengan nada terburu-buru. ..

Ya Allah...bagaimana ini....aku gak mungkin keluar...karena toko-toko tutup...banjir dimana-mana. ... ku lihat tetangga sibuk memindahkan mobilnya ketempat yang lebih tinggi...
Tolong kami ya Allah....

Dalam kondisi seperti ini...aku merasa kecil...kecil sekali di dunia ini.... Pak Nanda bukannya tidak punya uang untuk beli beras...tapi justru karena kondisi alam yang tidak memungkinkan uang itu jadi tidak ada gunanya..tidak bisa untuk beli sesuatu..karena semua tutup...

Aku berusaha menenangkan anak-anak Pak Nanda... Aku beri susu dan teh manis hanya sebagai pengganjal lapar saja....Nanti begitu hujan reda...aku akan nekat keluar..walaupun banjir masing menghadang dijalan..begitu niatku...

Ku lihat anak-anak tertidur...udara dingin... Pak Paijo tidak bisa berbuat apa-apa karena rematiknya kambuh.... Ya Allah...tolonglah kami...

Tiba-tiba telpon berdering.." Assalamualaikum Asih...."terdengar suara lirih dari Ibu Nanda..."Sih. ..beras habis ya....maafkan Ibu ya...sudah merepotkan kamu....Sih. ..tolong titip anak-anak ya...Ibu masih dirawat... jangan lupa solat ya Sih...mudah- mudahan Allah menolong kita....semua diluar kemampuan kita....banjir dimana-mana. ... titip anak-anak ya...Sih..." Ku dengan suara Ibu bergetar dan terdengar isak tangis.... "Bu...semua sudah beres...anak- anak sudah tidur...tadi sudah Asih beri susu..dan sekarang tidur.."aku akhiri pembicaraan melalui telepon agar Ibu Nanda tidak panik yang akan berakibat pada kandungannya.

Kuambil wudhu... Aku solat sunnah...setelah itu aku benar-benar memohon....aku menangis...Ya Allah...tolong mudahkan segalanya... . selesai aku memohon....suara azan Ashar...terdengar berkumandang. ... selesai azan...aku lanjutkan solat Ashar....setelah itu aku memohon kembali.... dan aku yakin...aku tidak sendiri karena diluar sana Bapak dan Ibu Nanda juga akan melakukan hal yang sama....

Tingtong.... tingtong. ...tingtong. .... kudengar suar bel rumah berbunyi.... aku keluar dan kulihat Pak Paijo sedang membukakan pintu..walau jalannya masih terlihat pincang....
Ku lihat mobil box berdiri di depan rumah..."Maaf Mbak...ini kediamannya Bapak Nanda?" tanya orang yang keluar dari mobil box tersebut... "Betul Pak...ada apa ya..."tanya ku penuh curiga.... "Ini...ada kiriman beras dari Pak Faizal....beras cianjur...Maaf baru sampai..karena tadi dijalan macet dan banjir..."orang tadi menjelaskan. ..dan kulihat..baju dan celananya basah..dan dari wajahnya nampak capai sekali..."tadi mobilnya mogok...maaf jadi kotor dan basah semua, berasnya taruh dimana, Mbak..."lanjut pria tadi...
"Ohhh...iiiiyaaa. ..yaaa... taruh disini Pak..."aku terkejut akibat dari terkesimanya aku dengan kejadian hari ini.... percaya tidak percaya....Allah telah membantu keluarga ini dari kesulitannya. ...
"Mbak..semua 12 karung... sudah ya..Mbak..saya pulang dulu..."ujar pria itu...Eh Pak...ngopi atau ngeteh dulu yah...hangat- hangat... .sebentar ya Pak, kataku mempersilahkan pria itu duduk....
"Terima kasih...Mbak. ..terima kasih...Alhamdulila h...",jawab pria tadi sambil duduk ditemani oleh Pak Paijo...

Tak lama aku keluar membawa 2 gelas kopi panas dan makanan kecil.... setelah itu aku masuk kembali untuk menghubungi Bapak Nanda...

"Assalamualaikum Pak...Pak... ada yang kirim beras 12 karung 25 kilo...katanya dari Pak Faizal...habis panen...beras Cianjur..."belum selesai aku bicara...terdengar "Alhamdulilah ya Allahh....Alhamduli lah....Bu. .kita dapat kiriman beras..dari Pak Faizal.... kudengar suara Bapak dan Ibu Nanda dan kudengar tangis bahagia mereka berdua...."Sih. ..Asih... terima kasih ya..nanti Bapak akan telpon Pak Faizal...terima kasih yah Sih...titip anak-anak... "terdengar telepon ditutup..

Terima kasih ya Allah...atas kemurahanMu. ...tak terasa air mataku mengalir.... aku yakin...ini semua hasil dari kebaikan dan kemurahan hati Bapak dan Ibu Nanda kepada sesama manusia... Allah melimpahkan rizki kepada keluarga ini....
Aku teringat ceramah dari seorang Kyai di kampungku... .."Bila kita menolong sesama karena Allah Ta'ala dan kita ikhlas melakukannya. ...suatu saat Allah akan mengembalikannya berlipat-lipat tanpa kita duga...ini semua seolah-olah kita memberikan pinjaman kepada Allah atas rizki yang telah Allah berikan kepada kita dan Allah mengembalikannya pinjaman tersebut dengan nilai yang tak diduga dan disangka-sangka. ..."

(sumber : millis sekolah-kehidupan@yahoogroups.com)

note : makasih atas ceritanya yang inspiratif banget. Membuka kesadaranku kembali akan kebesaran Allah. Semoga bisa tetep terus istiqomah di jalan Allah

Football News

 

© Copyright SEPEDA PANCHAL 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.